Dalam buku “Efisiensi Waktu:Konsep Islam”,edisi lengkap. yang dikarang oleh Jasiem M.Badr Al Muthawi dalam prolognya ada yang menarik sekaligus mengajak kita berpikir.
Pada suatu hari aku duduk dan menghadapkan hati ini ke hadirat Allah sambil menyesali rentangan usia yang telah kulalui. Kupanggil satu detik dari hidupku. Aku katakan kepadanya :
+ Aku harap agar engkau mau kembali kepadaku, supaya aku dapat menggunakanmu untuk berbuat kebaikan.
- Sesungguhnya tidak ada waktu yang sudi berkompromi untuk kembali.
+ Wahai detik…aku memohon, kembalilah kepadaku agar aku dapat memanfaatkanmu dan mengisi kekuranganku pada dirimu.
- Bagaimana aku dapat kembali kepadamu, padahal aku telah tertutup oleh perbuatan-perbuatanmu.
+ Coba lakukanlah hal yang mustahil itu dan kembalilah kepadaku! Betapa banyak detik-detik selainmu yang kusia-siakan?
- Seandainya kekuasaan ada di tanganku, pastilah aku kembali kepadamu, namun tiada kehidupan bagiku dan itu terlipat oleh lembaran-lembaran amalmu dan diserahkan kepada Allah SWT.
+ Apakah mustahil jika kau kembali kepadaku, padahal saat ini engkau sedanng berbicara kepadaku?
- Sesungguhnya detik-detik dalam kehidupan manusia, ada yang dapat menjadi kawan setianya dan adakala ia menjadi musuh besarnya. Aku termasuk detik-detik yang menjadi musuhmu dan yang akan menjadi saksi atasmu di hari kiamat kelak. Mungkinkah aku bertemu dua orang yang saling bermusuhan?
+ Duhai, alangkah menyesalnya aku. Betapa aku telah sering menyia-nyiakan detik-detik dalam perjalanan hidupku! Tetapi sekali lagi kumohon sekiranya engkau sudi kembali kepadaku, niscaya aku akan beramal saleh “di dalammu” yang pernah kutinggalkan.
Maka detik itu pun terdiam, tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Aku pun lantas memanggilnya :
+ Wahai detik, tidakkah engkau dengar panggilanku? Kumohon jawablah..
- Wahai orang yang lalai akan dirinya, wahai orang yang menyia-nyiakan waktunya… Tahukah engkau saat ini, demi mengembalikan satu detik saja, sesungguhnya engkau telah menyia-nyiakan beberapa detik dari umurmu. Mungkinkah engkau dapat mengembalikannya pula? Namun aku hanya dapat berpesan kepadamu “Sesungguhnya perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) segala perbuatan yang buruk”
Maka Wahai sahabatku bersegeralah..,beramallah,bersungguh-sungguhlah, bertakwalah kepada Allah dimanapun engkau berada. Ikutilah perbuatan buruk itu dengan perbuatan baik, niscaya perbuatan baik itu akan menghapusnya, dan bergaullah dengan sesama manusia dengan budi pekerti yang luhur!
Nah, saudaraku dari uraian diatas mari kita merenungi secara seksama pesan tersebut. Adakah waktu yang kita lalui untuk kemuliaan islam dan kaum muslimin.
(Sumber : Buletin Trendi edisi 28)
